Temukan Kedamaian Dan Doa Di Bukit Kecil Swaymbhunath   Kathmandu (Part 31 )

(Mongkey temple kathmandu nepal)

Setelah mengunjungi kuil kehidupan dan kematian di Kuil Pasupatinath.
Jelang hari terakhir saya masih ke Kuil swaymbhunath,
Lokasinya Masih dalam kota kathmandu.
Swayambhu secara harfiah berarti “yang berdiri sendiri”.
Menurut terjemahan dari sebuah prasasti yang berasal dari tahun 460 Masehi, kuil ini dibangun oleh Raja Manadeva dan pada abad ke-13, Swayambhunath telah berkembang menjadi pusat Buddhisme yang penting.
Kuil Swaymbhunath dikenal juga sebagai “Kuil Monyet”
karena area di kuil ini banyak ditemui monyet liar berkeliaran.
Hanya saja Monyet-monyet di kuil ini sudah terbiasa dengan hiruk pikuk manusia yang setiap hari ke kuil untuk pemujaan..
Saya termasuk geli dengan yang namanya mongkey,tapi demi melihat kuil Swayambhunath, saya belai2in jalan kaki datang ke kuil ini, lumayan jauh dari pusat kota, jarak tempunya 3 km.
Tapi bagi saya itu masih,karna bisa saya tempu dengan hanya jalan kaki pulang pergi.
Bengitu masuk ke area kuil ini sudah disambut dengan monyet-monyet yang senyumnya seakan mengejek saya hahaha… flashback katanya asal mula nenek moyang manusia itu menyerupai monyet hahaha…
Entah itu benar atau mitos “entahlah….
Makanya saya suka ngakak klo liat orang yang giginya tonggos pikir saya itu mungkin itu masih ada keturunan monyetnya hahaha..”just joke.
Di kuil ini jangan kanget karna tangga naiknya hampir dipenuhi dengan monyet bergerombol,bapak ibu dan anak monyet loncat kesana kemari membuat saya mesti ekstra hati2…sebenarnya gemes pengen tendang pake sepatu…. hahaha
tapi itu lagi takut penyamaran saya terbongkar sebagai orang nepali hahaha…

Masalanya orang-orang di nepal itu sangat akrab dengan semua jenis hewan hampir sama dengan orang-orang Di India.
Hidup rukun dengan semua hewan saking rukunnya mereka bisa hidup berdampingan dengan akur dan sudah menjadi hal yang biasa melihat mereka makan bersama-sama. misalnya, di jaipur kambing dipakein baju,dan bebas masuk keluar rumah…membuat saya terbelalak mata ,sungguh kalah itu pemandangan yang tak biasa bagi saya.
Membuat Saya berpikir… sebengituh sayangnya orang dengan hewan …pantaslah mereka banyak yang vegetarian, mungkin ngak tegah makan dagingnya.
Lalu saya ke nepal euhhh sama aja hahaha.
Sebenarnya Cocok dengan saya, bukan pemakan danging.
Tapi kali ini saya melihat monyet dalam jumlah yang banyak sekali…. beberapa orang datang ke kuil ini bawah pisang hanya untuk diberikan sama monyet2 itu sejenak saya berpikir
Saya ke pasar butuh usaha merayu penjualnya , biar dapat harga murah ehhh ini monyet dapat pisang gratis ngak sopan hahaha…
Kuil ini Letaknya berada di atas bukit, menghadap ke sebagian besar lembah kota katmandu.
Salah satu tempat yang bagus untuk menikmati pemandangan kota kathmandu.
Menurut sejarahnya
Situs kuil ini telah berdiri sebagai ciri khas iman dan harmoni selama berabad-abad.
Kemuliaan Lembah Kathmandu konon sudah dimulai dari titik ini.
Dari kota katmandu yang terlihat hanya stupa warna emas dan itu adalah stupa kuil Swayambunath.
Stupa ini adalah yang tertua dari jenisnya stupa yang ada di Nepal, memiliki banyak kuil dan biara.
Legenda juga mengatakan bahwa Swayambhu lahir dari bunga lotus yang bermekaran di tengah danau yang pernah tersebar di Lembah Kathmandu dulu.
Gambaran terbesar dari Buddha Sakyamuni di Nepal terletak di atas tumpuan di perbatasan barat Swayambhu.
Di belakang puncak bukit adalah kuil yang didedikasikan untuk Manjusri atau Saraswati – Dewi belajar. Chaityas, patung-patung dan kuil-kuil dewa Buddha dan Hindu mengisi kompleks stupa. Pangkal bukit hampir seluruhnya dikelilingi oleh roda doa yang baru saja dipasang.
Pemuja dapat terlihat mengelilingi stupa setiap saat di kuil ini.
Menurut prasasti dari batu dan catatan sejarah yang ditemukan di dalam kuil, stupa Swayambunath bahkan telah dikenal jauh sebelum abad kelima.
Kubahnya yang tinggi dan berwarna keemasan memberi ruang untuk menikmati lembah Kathmandu dari berbagai arah
“Mata Dewa.
Penyembah Swayambhunath adalah umat Hindu, Buddha Vajrayana di Nepal dan Tibet Utara, serta Buddha Newari di Nepal Tengah.
Untuk tangga naik menuju stupa di atas bukit ini lumayan bikin betis keder, jumlahnya 365 anak tangga baru sampai di puncaknya amazing hahaha…
Saya membayangkan orang-orang yang datang berdoa di kuil ini
Setiap pagi harus melalui tangga ini sebelum fajar, andai saya mungkin sekali sebulan…
Di pintu masuk gerbangnya, kita bisa melihat dua patung singa penunggu kuil, sempat terpikir bingung ini kuil budha atau Hindu? dan ternyata kui ini memang merupakan perpaduan Kuil Budha dan Hindu.
Jika dilihat dari bentuk kuil yang paling besar di Swayambunath seperti kuil Budha dengan bentuk kuil setengah lingkaran sedangkan kuil-kuil yang lebih kecil banyak di sekitarnya terdapat patung-patung dewa umat hindu.
Bengitu sampai di puncak di seblah kiri ada post loket untuk bayar ticket masuk ke area stupa .
Tarif masuk ticket untuk tourist dikenakan 200 rupee.
Sementara untuk lokal 50 rupee.
Tapi saya sudah mahir dalam penyamaran, saya ikut bergabung dengan rombongaan orang lokal jadi cuman bayar 50 rupee saja.
Disini tidak ada pintu rahasia jadi satu2nya pintu naik itu lewat tangga.
Kuncixnya itu cuman geleng kepala tapi mesti mahir geleng kepala disaat yang tepat artinya bahasa dan mimik wajah harus singkron, terus gerak tangan juga mesti nyambung dengan lirikan mata” Yes or No… pasti mereka akan paham tidak perlu susah2 mikir mau ngomong apa…hahaha…

Di atas kuil ini ada beberapa monumen penting yang bisa dilihat seperti ,
Vajra ‘thunderbolt’ besar berlapis emas di sisi timur stupa,
Patung Buddha di sisi barat wayambhu Sang Buddha Tidur,
The Dewa Dharma Monastery, yang tercatat sebagai ikon perunggu Buddha dan lukisan tradisional Tibet.

Setelah puas seharian berkeliling di kuil swayambunath, saya turun kembali menyusuri lorong-lorong kota katmandu
Saya selalu bawah map jadi mau muncul dari arah manapun, thamel selalu jadi arah utama, tinggal lihat arah dimana saya berdiri dan mulai jalan.
Saya belajar teknik ini waktu pertama sekali trip ke phuket old town ,bingung dengan tulisan
cacing jadi patokan saya itu gedung tinggi dan cukup berhasil.no drama no nyasar..
Bedanya di nepal tidak ada bangunan pencakar langit jadi mesti paham jalur yang ada di map.
Di nepal juga tidak ada papan petunjuk jalan, makanya nama jalan itu penting di hafal.
Tinggal cek di gps tapi saya hanya jadikan gps itu petunjuk arah karna bisa menyesatkan.
Map manual dan gps itu harus sama.
Pengalaman selama di kathmandu tidak pernah nyasar karna saya paham arahnya.

Jadi penting banget buat kamu yang solo trip belajar membaca map secara manual tempat yang kamu datangi
Gps memang bagus tapi ini untuk mengantisipasi hp bisa hilang atau hp bisa error..
Ngak mau khan kena sial gara2 nyasar…!!

Bersambung…
Meninggalkan nepal dengan seribu kenangan pahit dan manis.
Seri terakhir part 32..