Kehidupan Dan Kematian Di Bagmati River Pasupatinath Kathmandu Nepal (Part 30)

Waktu saya masih satu minggu di kathmandu,setidaknya saya sudah lolos satu minggu survive, masih banyak waktu sebenarnya hanya saja
Saya tidak ingin mengambil resiko keluar darikota kathmandu, karna keuangan saya sedang sekarat.
Untuk makan saja,saya harus berhitung.(benar2 ujian berat )
saya hanya ingin memastikan dengan uang seadanya, saya bisa terus survive, karna saya sendirian di negara orang.(curhat).
Tapi meskipun bengitu bukan berarti saya tidak bisa ngapain2 lagi.
Kathmandu kota yang besar dan merupakan pusat kebudayaan umat hindu di nepal ,ada banyak yang bisa dikunjungi termasuk salah satunya kuil suci yang terletak di sebelah tenggara kota Kathmandu
Kuil Pasupatinath.
Untuk mencapai tempat itu dari kawasan Thamel saya keliling cari public bus kesana.
Bisa naik di jalan jamal street masih kawasan tamel.
Untuk tourist dikenakan tarif 50 rupee , sedangkan warga lokal 25 rupee, bus ini langsung ke area kuil
Pasupatinath.
Kalau bingung bisa langsung turun di Gaushala Chowk dari sini 10 menitan jalan kaki turun ke kuil.
Karna saya was2 kalau saya banyak bertanya pasti saya ketakhuan klo saya adalah tourist, bisa jadi kena tarif tourist.
Saya cukup andalkan gps di hp, bengitu dekat dengan lokasi,saya langsung minta turun dari bus
Bahasa yang saya gunakan juga “body language” gerakan tangan dan mata (kurang lebih sudah mirip style orang india)hahaha…
Saya tes bayar 50 rupee benar masih kembali 25 rupee itu artinya tarif lokal.
Trik saya kali ini cukup berhasil.
Dari Gaushala Chowk saya jalan kaki turun ke kuil Pasupatinath.
Kesan pertama melihat kompleks kuilnya semberawut, mungkin karna masih dalam tahap rekontruksi perbaikan kuil.

Puing2 puing keretakan kuil masih terlihat jelas akibat gempa dasyat 7,9 SR, yang melanda negara ini tahun 2015.

Tercatat dalam sejarah nepal, korban tewas akibat gempa pada saat itu kurang lebih 4.349 jiwa korban. Mayat berserakan di mana-mana dan warga terpaksa melakukan kremasi massal.

Bisa dibanyangkan berapa hari sibuknya kuil ini menjadi tempat kremasi tahun itu,Mungkim 24 jam non stop setiap hari.

Pintu Area masuk ke gerbang kuil itu dipenuhi dengan lapak-lapak penjual aneka kembang bunga warna kuning yang ngejreng banget warnanya, kembang ini untuk pemujaan, perlengkapan sembahyang umat Hindu dan pernak- pernik simbol umat hindu.

Saya hanya melongo melihat pintu gerbang masuk lumayan sesak banyak, pengunjung antri mau masuk entah datang ziarah atau berkunjung saja seperti saya.
Di sebelah kanan gerbang,ada loket khusus untuk turis asing.
Saya lihat hargnya tiketnya duuhhh…
Tiket masuknya lumayan mahal, 1000 rupee atau sekitar 10 usd.
“Ohh my god very expensive jelas saya tidak punya uang sebanyak itu.
saya cuman bawah uang 250 rupee itupun sudah termasuk tranport pulang pergi (nyesak )
Saya mulai mundur kebelakang mencari akal
Mata saya liar sambil berpikir, kira -kira ada ngak pintu rahasia masuk kedalam kuil ini..(lubang tikus misalnya)hahaha..
Otak saya benar2 bekerja ekstra saya ingat wajah saya khan mirip orang nepal.
Ini bisa menolong,lalu saya lihat ada jalur kiri naik ke atas bukit beberapa orang anak muda rombongan jalan naik ke atas tampa pikir panjang lagi, langsung bergabung dari belakang,pokoknya ikut saja jika beruntung saya masuk berarti masih nasib baik, jika gagal berarti sudahlah yang penting sudah lihat kompleks temple Pasupatinath..
Sampai di atas duuhh kok alun2..disana banyak orang sedang bersantai campur baur dengan sapi.

Saya keliling ketemu jalan setapak turun kesungai bagmati dari pinggir sungai ini saya jalan menyusuri sungai dan sedikit kanget ternyata saya sudah di dalam lokasi kuil.
Rupanya sungai bagmati itu membela dua kuil jadi jalur tengahnya itu sungai bagmati.
Akhirnya berhasil masuk gratis hahaha….
lagi-lagi saya lolos masuk tanpa perlu membayar tiket yang mahal itu.
“Demi dewa maafkan saya”.
Jika bukan karna irit saya tidak mungkin melakukan penyusupan ini..secara diam2 semoga dewa siwa memaafkan kelakuan saya, masuk kerumahnya lewat jendela alias gratis.
Semakin dekat asap pembakaran mayat semakin jelas anehnya bau asap wangi dupa.
Indra penciuman saya memang lumayan tajam.
Bengitu dekat, saya shock mata saya langsung tertuju dengan bungkusan putih dan ternyata itu adalah mayat yg baru saja datang dibawah.
masih di letakkan lengkap dengan tandunya.
Sementara di atas ghat tumpukan kayu bakar yang terlihat.
Saya langsung buru2 ke jembatan penyebrangan, terlalu dekat bikin saya gemetaran.
Dari sebrang sungai saya tertegun melihat mayat itu.
Hampir mata saya tidak lepas melihat tahap demi tahap prosesi kremasi itu mulai berlangsung,dari dibersihkan sampai pada proses pembakaran puncaknya saat api itu menyalah besar melahap tubuh mayat itu.
Tiba2 perasaan saya mulai tidak karuan..
Entah apa yang saya pikirkan
Terlintas kembali pengalaman pertama melihat kremasi di India.
ada ketakutan besar terlintas dibenak saya ,membayangkan jika saya sudah seperti itu “mati”
Saya sangat paham bahwa semua orang akan mati hanya saja pikiran manusiawi saya sering menepis, seakan menolak takdir itu.
Apakah saya kurang iman? “Entahlah..
Yang sebenarnya dibalik kehidupan tersembunyi maut yang di sebut “kematian.
Yang kapan saja bisa datang menjemput,seperti pencuri di malam hari.
Sejatinya kehidupan itu berkawan erat dengan kematian.
Inilah kenyataan hidup yang sebenarnya.
Mungkin kuil pashupatinath hanyalah salah satu bukti dan gambaran nyata,
bahwa maut dan kehidupan itu sangat dekat.
Melihat kremasi dari dekat bagi kita yang tidak biasa tentu hal ini sangat mengharuh birukan hati.
Tidak muda diterima dengan hati nurani.
Terutama kita yang tidak dekat dengan tradisi ini.
Hati siapa yang tidak remuk melihat orang yang kita kasihi lalu kita juga yang harus menyalahkan api di atas tubuhnya dan menunggunya sampai tubuh itu hilang dilahap api hingga hanya menyisahkan abu.
Sungguh itu beban mental hidup yang mungkin tidak akan pernah hilang dari ingatan sampai jiwa itu juga menyusul kembali ke sang pencipta.
Itulah kematian.
jika tidak siap mental, sebaiknya jangan memaksakan diri untuk melihatnya.
Tapi bagi mereka yang hidup dalam keyakinan itu tentu memiliki pemahaman yang berbeda.
Bagi umat hindu
Ini adalah ritual yang lazim.
Jika di India varanansi saya sudah melihat prosesi ritual kremasi terbesar umat hindu di sepanjang sungai gangga.
Di nepal saya kembali menyaksikan peristiwa ritual yang sama di sungai bagmati.
Bedanya di India hampir tidak ada yang menangis ,dan kaum perempuan juga tidak ada dalam prosesi ritual itu.
Informasi yang saya dapat adalah dalam keyakinan umat hindu menangis akan mempersulit perjalanan sang arwa ke kembali ke sang pencipta kehidupan.
Di nepal saya melihat kerabat dari orang yang sedang dikremasi sampai pingsan karna menangis
Saya dari sebrang sungai bagmati melihat peristiwa itu sangat tidak kuat.
Kelemahaan terbesar saya adalah tidak bisa melihat orang menangis.
Mengingatkan saya akan kepergian mama saya secara mendadak, dua tahun yang lalu ,hati saya ikut merasa hancur.
Nafas saya serasa sesak, airmata tidak bisa saya bendung.
Bibir saya gemetar ingin berteriak “Tuhan kenapa kematian itu harus ada.
Makin lama jiwa saya makin terbawa hanyut dalam suasana duka cita yang dalam “Demi Tuhan saya tidak cukup kuat.
Saya harus pergi darisana secepatnya.
Dari tempat ini saya melanjutkan perjalanan berkeliling area sekitar kuil pashupatinath menghalau jiwa yang retak, dalam diam air mata saya terus mengalir berjalan menunduk,Mencoba menutupi sebisa mungkin agar orang tidak melihatnya.

Ada banyak kuil-kuil kecil disana.
Seharian saya di berada di lokasi kuil Pashupatinath.
Rasa lapar dan haus tidak terasa mungkin karna gejolak hati melihat peristiwa ritual kremasi .
Jelang sore saya kembali ke kota kathmandu.
Hari yang cukup berat buat saya.
Jika saya cukup kuat mendaki gunung berhari-hari ,tidak sedih dengan musibah yang menimpah saya kehabisan uang.
Tapi saya sangat lemah harus melihat kenyataan yang pahit tentang kematian.
Tapi dibalik peristiwa itu saya kembali menemukan harapan dan energi semangat hidup bahwa saya harus terus berjuang untuk bertahaan hidup.
Saya harus bersyukur bahwa saya masih beruntung masih bisa bernafas.
Hari itu kuil suci pashupatinath
menjadi saksi bisu dari catatan perjalanan saya.

Bersambung…..Part 31