Matahari Terbenam Dan Gangaa Aarti Di benares Holy City.

Gangaa aarti

Lanjutan setelah kejutan sungai gangga saya kembali ke hostel istirahaat.
Hari yang cukup melelahkan sekaligus hari yang mengecewakan, sungai gangga yang saya lihat jauh dari yang saya bayangkan.
Sepanjang jalan terus berpikir
Saya tidak boleh berkecil hati,jika Tuhan mengijinkan saya sampai di tempat ini tentu ada maksudnya.
Tidak ada yang terjadi secara kebetulan…
Pasti ada sesuatu dibalik ini semua.
Saya harus berpikir positip…
Singkat cerita saya sampai di hostel
Saya tidak langsung ke kamar tapi mampir ngobrol cerita sama teman2 backpacker lainnya.
Kami berkenalan dan mulai bercerita panjang lebar tentang perjalan kami.
Ada yang dari canada,spain,prancis dan swiss.
Tertawa lepas berbagi cerita semua punya cerita yang unik tentang perjalanan di india, ada yg satu bulan,3 bulan, dan yang paling saya kanget turist dari prancis sudah hampir setahun hahaha ..luar biasa…

Bengitulah cerita kami, membawa kami dalam suasana yang akrab hingga larut malam waktunya istirahaat.
Saya masih punya waktu 2 hari sebelum kembali ke new delhi.
Besoknya bangun lebih awal setelah breakfast di hostel saya keluar keliling kota varanansi melihat aktivitas orang2 disana.
Kota varanansi bukan kota yang bersih.
Jika jaipur semberawut divaranansi lebih parah.
tidak banyak sebenarnya yang bisa di lihat di kota itu.
Mungkin yang menjadikannya sangat familiar karna pusat dari kehidupan budaya dan tradisi umat hindu.
Jika diibaratkan kesatuan tubuh varanansi adalah jantungnya.
Kota yang menjadi pusat kremasi terbesar di wilayah india.
Sungai gangga tempat ziarah umat hindu dari berbagai wilayah di India.
Salah satu yang paling ditunggu adalah pemujaan
Gangga Aarti merupakan upacara Hindu untuk menyembah Dewa Shiwa, Sungai Gangga, api dan alam semesta.

Jika sebelumnya saya melihat upacara kremasi yang cukup membuat dada saya sesak hari ke dua saya kembali ke sungai gangga,
Sampai disana kembali melihat prosesi ritual kremasi dipinggir sungai gangga
Dalam jumlah yang lebih banyak.
Selama
Proses kremasi berlangsung sangat tidak diperkenankan mengambil gambar.
Beredar khabar bahwa keluarga akan sangat marah dan mungkin bisa saja meminta sejumlah uang bilah ketakhuan.
Saya hanya bisa melihat dan mengamati, hampir dalam prosesi ritual kremasi mayat di setiap ghat berlangsung cukup meng aruh birukan hati..
Tidak banyak yang mengiringi kepergian sang jiwa yang telah kembali ke sang pencipta.
Hanya lantunan suara sang pendeta,dan hanya beberapa orang keluarga yang datang mengantar jenazah itu untuk di kremasi.
saya melihat
Salah seorang dari setiap keluarganya mengelilingi jenazah itu dengan memikul semacam kendi yg berisi air sungai gangga, lalu dengan seiring habisnya air dalam kendi kemudian dijatuhkan, dan proses pembakaran jenazah berlangsung.
Anehnya tidak ada aroma yang aneh,justru asap pembakaran itu berbau dupa.
Tidak heran sekitar sungai gangga banyak cafe dan resto menghadap ke sungai gangga, sementara area disitu adalah tempat kremasi mayat.
Tentu saja hal ini sesuatu yang tidak biasa.
Selapar2nya dan sehausnya saya tidak akan mau makan dan minum disitu.
Tapi bagi orang-orang disana itu hal yang biasa.
Yang paling membuat saya agak merinding orang tetap melakukan aktivitas mencuci, mandi dan sikat gigi…aduhhh sungguh itu sesuatu yang langkah, hanya di India saya melihat habit seperti itu.
Dulu saya ingin sekali mandi di sungai gangga tapi setelah langsung melihatnya sendiri,nyali saya jadi ciut..jangankan menyentuh airnya ,apa lagi mau mandi kulit saya sudah gatal duluan…
Maafkan saya…jika dikasih pilihan
saya iklas tidak mandi satu minggu…hahaha

Meninggalkan proses ritual kremasi saya melanjutkan perjalanan keliling sungai gangga
Banyak pemandangan tidak biasa,seperti beberapa orang hanya menggunakan sehelai kain penutup sementara badannya penuh dengan abu mayat, buru2 saya menghindar leher saya sudah tercekik dari tadi pengen muntah.
Belum lagi kotoran ada dimana2
Ya ampun bengini banget kehidupan disini..
Sepertinya hari ini saya puasa otak saya sudah dipenuhi pemandangan aneh2…ditawarin pizza gratis pun ngak bakalan selerah lagi.. hahaha
Hari itu judulnya hemat..
Cukup dengan air minum sudah kenyang.

Hingga siang saya kembali ke hostel istirahaat.
Malamnya saya kembali ke sungai gangga
Menunggu pemujaan gangga aarti.
Ritual ini dilakukan setelah matahari terbenam hingga malam.
Gangaa aarti adalah ritual upacara pemujaan “Agni Puja” (pemujaan api) dalam agama Hindu untuk menyembah dewa Shiwa, sungai Gangga, Surya (matahari), Agni (api), dan seluruh alam semesta. Ritual pemujaan ini dilakukan setiap malam antara pukul 18.15-19.15
Dengan panggung2 kecil dan payung2 tinggi)
Dalam ritual pemujaan Gangaa aarti, sekelompok pendeta (5-7 orang)
dalam seragam khusus akan melakukan upacara ritual di tepi sungai Gangga dan di hadapan para pengunjung yang berkumpul menyaksikan upacara tersebut. Upacara ritual ini melibatkan banyak lampu, lilin, asap dupa dan lonceng.
Ritual inilah yang paling saya tunggu semoga memberikan hiburan ,Setidaknya
Tidak terlalu kecewa.
Saya percaya dalam setiap
Perjalanan tidak selalu semuanya buruk sepanjang hari itu adalah pelajaran,mencoba memahami tradisi dan kebiasaan orang lain.

Waktu yang saya tunggu sekitar jam 6 saya kembali merapat ke sungai gangga.
Disana sudah banyak orang lampu2 menghiasi sungai gangga sangat bagus
Wow…look so nice view
Wajah saya kembali ceria finally i see something diffrent here…

Gangaa aarti

Bergabung bersama ratusan orang entah darimana, sungai gangga yang tadinya sepi berubah menjadi ramai
Saya dan 2 orang teman mencari tempat duduk menyaksikan ritual itu..
Untuk pertamakalinya saya harus akui ternyata orang2 India itu cakep banget ya.
Dalam ritual ini dibawahkan oleh sekitar lima orang pendeta yang masih sangat muda .
Sejenak saya berpikir
Mungkin yang ini di audisi,tidak ada yang jelek, hampir mengalahkan bintang hollywood, kostum yang mereka gunakan juga mirip dalam legenda mahabrata.
Mereka…sangat mahir dalam memainkan api dengan tarian yang bikin mata tidak berkedip.
That was really
Amazing…i ever seen.
pemujaan itu ditutup dengan pelepasan lilin ke sungai gangga
Saya sangat kagum dan beruntung bisa mengikuti ritual itu.
Akhirnya saya bisa menemukan sesuatu yang berbeda di varanansi.

Gangaa aarti

Setelah proses ritual selesai kami meninggalkan sungai gangga mencari makan malam seharian nyaris tidak bisa makan tapi malam itu rasa lapar tak bisa saya tahan
Pikiran saya stabil
Saya harus makan…kami naik ke sebuah restoran dan pesan makan setelah kenyang kami kembali ke hostel.
Besok adalah hari terakhir masih ada yang saya satu naik boat di sungai gangga recomendasi dari teman jam 5 waktu yang paling baik
Gilaaa jam sengitu
Ini musim winter tulang2 saya pasti membeku.

Gangaa aarti

Salanjutnya…next story
The last day in varanansi
Best view in the morning…let’s see
Penasaran khan sungai gangga diwaktu pagi hari.
Drama perjalanan meninggalkan varanansi yang ini lumayan bikin emosi jiwa
Mengusir orang dari tuktuk….check Link Below :👇

https://ceritabackpacker.com/2018/09/20/ketika-kesabaran-ada-batasnya-mengusir-orang-dari-tuktuk-varanansi-india-part-20/