Ketika Gangga Di depan Mata Varanansi India (Part 18)

Meninggalkan agra saya melanjutkanperjalanan ke varanansi atau banares lebih dikenal dengan sebutan holy city.
dalam hitungan jam saya akan melihat sungai gangga lebih dekat, itu artinya
Mimpi melihat sungai gangga itu sudah hampir kesampaian…
Dari agra saya naik bus malam berangkat jam 8 malam menggunakan sleeper bus
Perjalanan menempu jarak cukup jauh dari agra 16 jam tiba di varanansi jam 12 siang perjalanan yang melelahkan bangun tidur entah dimana bus ini berenti ?
Sangat lama di bus gelisah tak menentu.
saya tidak sendirian tourist ada 5 orang cuman 3 yang saya kenal yang satu dari dari spanyol dan 2 orang dari german.
Karna naik bus sleeper jadi kita masing2 punya tempat tidur,sudah pasti sibuk masing2..kami hanya saling bertegur sapa saat bus berenti dijalan biasalah pipis bareng2 hahaha
Pokoknya bus dimana berenti disitulah toilet, ngk perduli tempat umum,pinggir jalan dimana2…tergantung supir busnya.
jangan harap ada tulisan toilet cari sendiri tempat ngumpet terus pipis disitu.
Saya sudah 3 minggu Di india sudah terbiasa dengan kondisi itu..
Cuekk aj.
Lagian dilihat orang juga tidak akan merubah ukurannya hahaha..

Sekitar jam 12 siang bus tiba divaranansi.
Karna bus kesiangan jadi kami harus turun dipinggir jalan dan jarak ke kota masih sekitar 30 menit.
Kondisi dan situasi seperti inilah yang terkadang membuat kita sebagai sesama traveler cepat saling kenal dan akrab, apalagi kalau memiliki tujuan yang sama.
Dari tidak kenal menjadi kenal..ditempat seperti itu orang pertama yang menjadi teman kita berbagi cerita dan informasi.
Lalu kami memutuskan sewa tuktuk menuju pusat kota.
Karna secara kebetulan hostel kami berdekatan.
Sampai dikota kami berpisah dari panduan gps saya turun duluan.”see you arround guyz…have good time
Lalu saya mulai
Mencari hostel saya yang susah banget karna ngumpet dalam lorong.
Saking susahnya saya sampai nyasar ehhh ketemu sungai yang banyak sapi dan tumpukan sampah saya mikir ini kali koq besar banget ya?
Belum tau kalau itulah sungai gangga.
Dari ujung ke ujung masuk lorong keluar ketemu lorong lagi..
Ditengah rasa putus asa
Sepertinya saya harus ganti hostel on the spot
Dapat sekitar 3 hostel semuanya mahal dan tidak bagus.
Hampir 2 jam waktu saya habis hanya mencari hostel.
Saya belum menyerah saya harus dapat hostel itu.
Dalam perjalanan saya suka kesall dengar orang menyapa ” hello my friend tuktuk …?
Where are you going?
Come come…!
Tapi saya sudah kebal dengan rayuan ini dalam hati” you are not my friend haha.
When people say hello my friend “its a bullshit.
Dan setelah pencaharian yang panjang saya ketemu
Beneran dalam lorong yang sempit.

Saya masuk dan check in
Menurutku orangnya tidak ramah
Mungkin karna tampang saya sudah mendekati gembel soalnya sudah 2 hari tidak mandi hahaha
Bodoh amat you ngk ramah saya bakalan kasih review yang buruk tentang hostel kamu ” yes of course

Saya sudah sangatlah butuh istirahat.
Rasa lapar ternyata masalah besar
Ngak bisa tidur.
Jadi saya memutuskan mandi,daki saya sudah luar biasa tebalnya
Ini kalau airnya mengalir ke kolam bisa2 ikannya keracunan…
Setelah selesai mandi , wangi seger
Langsung kebagian informasi
Pertanyaan pertama saya ke pegawai hostel
Saya ngak tanya dimana resto untuk cari makan
Tapi sungai gangga itu dimana?
Dia mulai menjelaskan secara detail petunjuk arah jalan ke sungai gangga.
Ok fix sangat mudah cukup 10 menit jalan kaki
Rasa lapar jadi hilang urusan perut belakangan
Lihat sungai gangga dulu..
Saya keluar dari hostel menuju lokasi rasanya itu pengen lari2 seperti anak kecil kegirangan menyambut hadiah besar dari mama yang pulang dari pasar hahaha…
Percayalah ekspresi wajah saya saat itu bersinar,bercahaya saking senangnya sepanjang jalan abaikan tai sapi yang ada dimana2..
Hahaha..
Sudah terbiasa soalnya.

Dan finally sampai di lokasi shock bukan main
Ngk percaya masih soalnya saya ingat tadi saya nyasar kesini
Kok ketemu lagi…hemmm sepertinya saya salah nih..?
Kebetulan ada orang disitu
Saya tanya “excuse me where is it gangga river here?
Mungkin dia kanget what…?
Saya ulang “gangga river
Orang itu dengan cueknya this is gangga river
Dahi saya berkerut apa dia paham maksud saya?
Yes this is gangga river…mungkin dia kessal akhirnya dia pergi..meninggalkanku..
What….?
Ohh my ghooshhh i can’t believe it???
Mematung aj disitu berdiri
Melihat kebawah ada beraneka macam sapi kecil, besar,kurus gemuk dan sampah dimana2…

Ohh nooo…gangga saya kok bengini?
Pelan menurunin tangga seperti orang linglung…
Cari tempat lalu duduk disitu merenung memandangi sungai gangga yang jauh dari impian saya
Sedih dan kecewa menyatuh
Ya ampun…sejauh ini saya datang hanya melihat ini.
Sungguh tak ada kata lain selain diam seribuh bahasa.
Digigit juga nyamuk juga mungkin mati rasa.
Satu jam waktu sangat melambat
Saya mulai menyusuri pinggir sungai gangga…
Banyak hal yang saya lihat mulai dari orang mencuci,mandi,berdoa
Lalu ada yang membuat saya kanget
Ketemu kremasi mayat
Duuhhh kaki saya gemetar liat mayat di atas tumpukan kayu berjejer tiga lalu satu demi satu dibakar
Mendadak keringat dingin…
Seperti inikah proses ritual kremasi itu?
Hanya ada beberapa orang disitu
Tidak ada suara tangis
Perempuan juga tidak ada hanya laki2.
Terlintas dibenak saya apakah yang meninggal itu tidak punya keluarga?
Saya duduk lagi mengamati sampai yang terlihat hanyalah sisa abu tubuh mayat itu sudah hilang disana.
Akhirnya airmata yang saya tahan keluar sendiri.
Sedih banget pokoknya.
Saya sedang tidak memikirkan rasa kecewa saya dengan sungai gangga tapi angan saya melayang jauh berpikir tentang kehidupan di masa depan
Orang saling membenci,memaki,serakah,materislistis,sombong dan angkuh.
Lihatlah hari ini terlihat jelas dimata saya
Kehidupan setelah jiwa raga hilang dari tubuh yang disebut kematian itu
Kita tidak lebih dari setumpuk kayu
Hanya tersisa abu..sementara jiwa telah kembali ke sang pencipta.
Lalu masih kah kita berbangga dengan apa yang kita miliki di dunia yang hanya sementara ini.

Lalu bagaimana kisah selanjutnya…

Bersambung….

Ini seru…part 19