Nigthmare Train From Jaisalmer To Jaipur (India Part 15)

Meninggalkan jaisalmer cukup memberi kenangan manis
“It was really incredible been there
Saya melanjutkan perjalanan kembali ke jaipur
Naik kereta malam estimasi tiba besoknya di jaipur, itu artinya saya hemat akomodasi lagi beli ticket kereta sleeper train.
Jadwal keberangkatan jam 9 malam ternyata ada perubahaan jadwal dan keretanya juga diganti,
Saya mulai panik saat lihat jadwal di kereta kok nomor dan kereta tujuan jaipur tidak ada konfirmasi di layar?
Saya lihat jam sudah menunjukkan jam 9 malam.. oh my god
Saya ke bagian informasi check status keretanya ngimna?
Dan saya diberi tau keretanya sudah ada , saya diminta check sendiri di luar
Saya keluar lagi dan check iya benar kereta ada tapi kok tidak sesuai dengan yang tertera di ticket.
Shitt…lari lagi masuk
Ini sudah panik “where is the train position ?
Santai banget jawabnya “you can see outside
Yes but it’s not my train ?
Saya menunjukkan lembaran print ticket
Ohh yes there is something trouble you must wait for one hour more
What???
Oh my ghoshh..
Ini bukan masalah lamanya saya sudah hampir membeku kedinginan
Hawanya gilaaa dingin banget jacket tidak cukup hangat.

Sekitar jam 10 stasiun sudah sepi ampun itu keretanya belum ada tanda-tanda mau berangkat.
Bisa-bisa kena demam tulang saya disini menunggu.
Ternyata ada masalah dengan system jadi keretanya delay dan dialihkan ke kereta pengganti. disinilah awal kekacauan penumpang di data ulang secara manual.
Saya makin bingung dari gerbong ke gerbong mencari kodenya gerbongnya tidak ketemu yailah ganti kereta soalnya.
Ditambah lagi stasiun gelap gulita tulisan di manifest baru yang ditempel disetiap gerbong dari ujung ke ujung, karna saya harus baca satu-satu seperti mencari nama kelulusan pegawai negeri sipil entah lulus atau tidak.. hahaha
Percayalah itu situasinya sangat menyebalkan.
Saya capek sendiri akhirnya lari lagi masuk ke dalam cari petugasnya
Ngotot “please help me show me my train number.
Kali ini sedikit beruntung bertanya dengan petugas yang friendly lalu dia mengantar saya ke kereta
Saya seperti anak kecil dari belakang berlari mengikuti jalannya yang sangat cepat.
Ternyata gerbongnya ,saya sudah lewati tiga kali sebelumnya
Aduhhh betapa bodohnya saya
Dengan wajah malu dan senyum terbaik dari saya sangat berterimakasih “thank you so much
Dia hanya nyengir…entah apa yang dia pikirkan tentang saya
Ahhh bodoh amat toh.. saya sudah aman…
Tiba-tiba di samping saya ada bule tourist ternyata kami sama dia juga sudah bolak-balik mencari gerbong tidak ketemu
Petugasnya cari namanya di manifest wahhh satu gerbong dengan saya” finally i got new friend.
Tidak perlu menunggu lama langsung naik kereta 10 menit lagi akan berangkat ke jaipur
Kami beli ticket yang sama secara kebetulan kami satu gerbong dan tempat tidur juga berhadapan kami, berkenalan dan mulai bercerita panjang kali lebar
Dia juga solo backpacker asal prancis tujuan kami sama ke jaipur.
Karna disetiap stasiun kereta singgah drama lanjutan terulang orang-orang naik di kereta banyak yang kebingungan karna diticket mereka tidak lagi sesuai dengan nomor seat yang tertera di ticket.
Keributanpun terjadi saya dan teman baru saya cuman bengong jadi penonton
Teman saya bilang “better we sleep hahaha..good idea
Keesokan harinya saya bangun kanget dibawah kaki saya sudah ada orang
Waduhh..saya lihat teman saya disamping sudah duduk berbagi tempat dengan orang lain.
Stengah oleng karna rasa ngantuk saya tanya teman saya “what the hell with this so many people?
Teman saya kelihatan kessal juga kayaknya” i don’t know..
Saya bangun,duduk dan orang yang duduk dibawah langsung ambil posisi naik duduk disamping saya.
Ohh my god…teman saya langsung ngasih kode what???
Awal pagi sudah bad mood…damm…sementara
Jarak tempu masih sekitar 8 jam still far away…
Saya sudah tidak bisa melanjutkan tidur saya, mau luruskan kaki saja sudah tidak bisa.
Mendadak tempat saya sudah seperti ruang tamu mereka ngobrol dengan suara yang sangat keras seperti pertengkaran sengit memperebutkan harta karun ,pada hal kita dalam kereta.
Saya berusaha berdamai dengan hati saya sendiri,berusaha menerima kenyataan bahwa ini adalah bagian dari perjalanan saya,
Saya tidak menyukainya tapi saya harus menerimanya dengan jiwa yang besar.
Saya merenung mengalihkan pandangan saya ke luar jendela kereta, berusaha tersenyum
Sesekali mata saya melihat hal-hal yang luar biasa,sesuatu yang tak pernah saya temui sebelumnya.
Melihat orang buang hajad dipinggiran rel kereta api, membuat saya jadi mual ingin muntah namun leher saya tercekik takut membuat orang lain tersinggung.
Belum lagi kadang-kadang saya tidak bisa bernafas hidung saya sangat sensitip dengan bau-bau yang aneh.
Saya mencoba menggunakan masker dan apa yang terjadi saya jadi perhatian orang-orang dalam kereta , semua mata memandang saya membuat saya jadi kikuk sendiri.
Karna rasa tidak nyaman saya harus melepasnya meskipun hati saya sangat kessal,tapi saya tidak ingin menyakiti orang lain.
Lalu saya memilih damai meski sebenarnya tidak ingin tidur tapi hanya mencoba berusaha mengalihkan pandangan orang-orang dari saya.
Hidung saya tidak filek tapi ini salah satu cara memberikan pengertian bahasa kalbu bahwa saya butuh masker untuk menyumbat hidung saya.
Minyak kayu putih menjadi pilihan terakhir , sekaligus menjadi solusi paling tepat dalam kondisi seperti ini.
meski hidung saya jadi pedis tapi ini lebih baik.
Belum selesai saya benafas dengan baik tiba-tiba orang disamping saya tampa permisi meludah di depan saya
Oh my god…
Separah inikah attitude orang-orang yang saya temui dalam perjalanan saya.
Teman saya hanya melongo,kanget dan saya sangat paham dia pasti juga kessal.
Saya hanya diam seribuh bahasa melempar pandangan saya ke luar jendela.
Rasanya mata ini tidak cukup kuat membendung airmata yang hampir tumpah tapi saya berusaha tegar dam kuat.
Berusaha tidak ingin orang lain tau apa yang saya sedang pikirkan.
Lelah dan capek rasanya ingin berteriak
Meratapi kesialan
TUHAN apa arti dari semua ini ?
Sungguh seperti teka-teki hidup. saya tidak bisa berenti dan
Terus berpikir kesalahaan apa yang saya buat di masa lalu?
Saya seperti menjalani hukuman hidup atas dosa-dosa dimasa lalu.
Atau apakah ini memang bagian dari perjalanan hidup saya.
Memikirkannya tidak akan pernah habis dan pertanyaan misteri hidup yang mungkin tidak akan pernah terjawab.
Sepanjang perjalanan hanya merenung
Tidak sabar secepatnya tiba di jaipur..
Sekitar jam 12 siang kereta kami tiba di jaipur

Berkemas langsung turun dari kereta
Mencari taxi ke hostel yang saya sudah booking sebelumnya.
Karna teman saya belum booking hostel jadi saya tawarin ikut ke hostel saya
How about you?

Have you get hostel here?
Not yet if you don’t mind i am going with you
Ok let’s look for taxi outside.
Semoga hostelnya belum full
Kami sewa tuktuk 300 rupee
Kamipun naik ke bajai menuju kota jaipur.
Ditengah perjalanan supirnya kebingungan rupanya dia tidak tau jalan
Saya dan teman saya kanget…ohh shitt..kali ini saya masih santai
But you told to us you know
Why did you say again you don’t know this hostel ?
I don’t understand you must bring us to this address.
That’s your problem.
Teman saya hanya diam
Sudah hampir satu jam mutar-mutar ngak jelas.
Lalu di supirnya bilang mr you get down here
Kanget bukan main
What??
Kali ini saya makin berani soalnya saya berdua.
Are you crazy this is not the place
If you don’t know the way?

why did you take us at the station
I will not pay for this, you fucking man.
Mungkin karna dia takut…

Ok.. mr you didn’t need to pay me.
Yes of course i will not pay your stupid.
You just take us more far away from my hostel.

Teman saya bilang “it’s ok
We looking for another.
tadinya teman saya tetap mau bayar tapi saya tahan “No need to pay.
Kami berdua terdampar di lorong yang sesak
Sebenarnya kami sudah sangat lapar..
Masuk lorong ke luar lorong mencari taxi susah sekali
Saya check di map masih
Sekitar 30 menit dari lokasi kami.
Teman saya sudah tidak kuat jalan..
Sorry i have not enough strong walk
I am really hungry.
Its ok just a few minutes more
We must go to the big street than find taxi ok for you.
Kasihan juga ya

Saya mungkin sudah terbiasa tahan lapar

Jadi masih cukup kuat jalan kaki.
Inilah alasannya
Saya lebih senang bepergian sendiri karna saya bisah mengontrol semua,termasuk bisa tahan lapar.
Setelah sampai di jalan besar kami naik taxi mahal 300 rupee karna kasihan sama teman saya jadi saya tanya?
“How is it the price very ekspensive? tapi teman saya bilang its ok.
Jadi kami tetap naik.
Jaipur ternyata kota yang ruwet
Saya sangat tidak menyukai kota ini.
Sampai di hostel langsung check in
Beruntung masih ada satu kamar yang kosong jadi teman saya aman
Kebetulan hostelnya bisa order makanan
Jadi kami pesan makanan di hostel habis makan langsung istirahat
Sungguh hari yang berat.

See you next stori all about jaipur
A day in jaipur